Senin, 23 November 2015

Banjir dan Kekeringan Dampak Air Tanah Yang Hilang

Sebab dan Dampak Banjir
Siapa yg dapat mengelak bahwa Indonesia negara yg mempunyai dua periode ini senantiasa berada di bawah bayang-bayang bencana alam yg ironisnya senantiasa berlangsung bergantian di dua msuim itu, ya bencana banjir & kekeringan telah semacam menjadi tradisi di Indonesia. Entah kenapa kekeringan & banjir senantiasa datang bersahutan. Seperti yg berulang di thn ini, diwaktu kekeringan panjang menghantam Indonesia sejak Maret sampai Oktober 2015, setelah itu cepat disusul oleh risiko banjir di kota-kota gede macam Jakarta, Semarang, Bandung, Manado, & kota-kota komuter di seputar Jakarta.

Jadi pertanyaan akbar, apa sesungguhnya yg menjadi lantaran mutlak terulangnya bencana banjir & kekeringan di Indonesia tiap-tiap tahunnya? Pantas direnungkan lebih jauh bahwa salah satu penyebab rutinnya risiko banjir & kekeringan yg terulang tiap th adlah lantaran ketiadaan atau hilagnya stok air tanah (green water). Macam Mana dapat begitu? Penjelasan ilmiah atas penyebab bencana banjir & kekeringan di Indonesia ini dikemukakan oleh Direktur Kehutanan & Konversi Sumber Daya Air Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Basah Hernowo seperti yg dilansir dari page CNN Indonesia.

Menurut Hernowo, dengan cara kajian ilmiah, tanah Indonesia yg demikian subur telah seharunya jadi barokah buat mencegah banjir & kekeringan, tapi apa yg berjalan justru sebaliknya. Potensi kekeringan & banjir masihlah muncul. Sebabnya yaitu keberadaan air tanah (green water) yg makin kritis. Sekarang keberadaan air tanah di Indonesia telah tidak sebanding bersama jumlah air mengalir atau yg biasa dinamakan yang merupakan blue water. Padahal air yg tersimpan di dalam tanah telah terbukti akan digunakan utk mencegah terjadinya kebakaran hutan & kekeringan panjang di periode kemarau, & mencegah meluapnya air jadi banjir di masa hujan.

Hernowo menjawab suatu pertanyaan agung yg berkecamuk di kepala tiap penduduk Indonesia berkaitan satu buah kebimbangan “kenapa banjir & kekeringan berlangsung di Indonesia?”. Paparan Hernowo memaparkan bahwa penyebabnya yakni dikarenakan green water telah menghilang dari dalam tanah. Di Indonesia, daerah yg masihlah hijau keberadaan air tanahnya cuma di Papua & Kalimantan yg benar-benar populasinya teramat jauh tidak sama di bandingkan Jawa.

Menurut data statistik yg dirilis oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, sekarang keberadaan air tanah yg terpendam di dalam tanah Pulau Jawa cuma segede 35 % saja. Padahal idelanya kepentingan persentase air tanah bagi Pulau Jawa biar tehindar dari bencana banjir & kekeringan setidaknya mesti ada banyaknya 64 prosen dari jumlah keseluruhan air yg turun kala masa hujan.

Imbasnya, kala air tanah habis, sehingga pulau Jawa di masa kekeringan dapat makin kering & kesusahan air, sedangkan di periode hujan, air tanah tidak sanggup terserap ke dalam tanah & beralih jadi bencana banjir.(cal)

img : techinasia.com 
Sumber

Bisakah Pemprov DKI Jakarta atasi Bencana Banjir Jakarta?

Solusi Banjir Jakarta 

Masa hujan telah mulai sejak terbiasa dirasakan bagi jutaan penduduk Jakarta & masyarakat di kota-kota komuter kurang lebih Jakarta. Tiap menjelang sore hri, hujan yg turun bahkan condong deras & petir bersahutan. Hujan di bln Nopember ini menjadi barokah yg telah sejak sekian lama ditunggu, dinanti, & di harapkan sesudah berbulan-bulan dulu dihantam bencana kekeringan panjang ga ada akhir.

Disaat Jakarta masuk ke masa hujan, potensi yg paling utama buat diwaspadai terlebih jikalau bukan potensi banjir. Jakarta & banjir yakni dua elemen yg tidak sanggup dipisahkan, bahkan sejak era kolonial beberapa ratus th dulu. Memasuki masa hujan thn 2015, sekali lagi jadi momentum pertaruhan bagi Pemerintah Propinsi DKI Jakarta utk membuktikan bahwa banjir Jakarta setidaknya telah sejak mulai menyusut risikonya. Milyaran rp telah digelontorkan buat mengembalikan keadaan daerah aliran sungai yg melewati Jakarta, merelokasi masyarakat liar yg sekian puluh thn menempati wilayah pinggiran sungai.

Dulu, waktu upaya pencegahan buat normalisasi sungai Jakarta telah begitu kompleks dilakukan. Bisnis terlebih yg sanggup dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta utk atasi bencana banjir Jakarta?

Seseorang pengamat perkotaan Perkotaan Kampus Trisakti Jakarta, Yayat Supriatna menyampaikan bahwa genangan air nampaknya tidak dapat kemungkinan dapat menghilang dari Jakarta. Kenapa sebabnya? Terkecuali masalah aliran sungai yg mandek, penyebab lain banjir Jakarta yaitu urusan drainase atau pompa penyedot air.

Seperti dilansir dari page CNN Indonesia, Yayat Supriatna mengisahkan bahwa drainase Jakarta itu biasanya telah berumur lanjut usia. Umumnya system drainase Jakarta dibangun di th 1970 an. Sekarang Ini telah nyaris setengah abad drainase itu bekerja keras menyedot segala bisa saja banjir & genangan air di jalan-jalan ibukota.

Yayat menegaskan, salah satu solusi banjir Jakarta ialah bersama mengoptimalkan pompa air yg ada di Jakarta. Merubah yg rusak & telah berumur uzur. Pompa air inilah yg nantinya bakal efektif buat mengatasi genangan di jalan-jalan ibukota Jakarta saat hujan deras melanda.

Intinya pemakaian pompa air mesti dioptimalkan & diperhatikan. Banjir Jakarta tidak cuma disebabkan oleh sungai gede yg tersumbat sampah, tapi pun lantaran tidak sedikit pompa-pompa air yg telah lanjut umur & sekian thn tidak diperbaiki. Akibatnya terang, hujan sedikit saja, genangan air bakal menutupi jalan raya di Jakarta. Bahkan genangan air yg lumayan dalam tidak jarang berjalan di sepanjang jalan Sudirman yg notabene yakni jalan protokol mutlak yg membelah Jakarta dari arah Blok Meter menuju Monas & Istana Negeri.

Ingin ditaruh di mana muka bangsa ini disaat orang asing menonton segera keadaan Jakarta yg terendam banjir, mereka tentu dapat segera tanya “Jika Jakarta saja telah banjir, dengan cara apa dgn wilayah lain di Indonesia yg demikian luas ini?(cal)

img : cnnindonesia 
Sumber

Rabu, 18 November 2015

Bidaracina Jakarta Mulai Banjir

Banjir Jakarta
Hujan mulai sejak deras mengguyur teratur Ibukota Jakarta, nyaris tiap-tiap harinya menjelang sore hri. Diwaktu langit sejak mulai mendung, 11 juta masyarakat Jakarta juga mulai sejak ketar ketir pada ancaman banjir yg sanggup datang kapanpun tidak dengan peringatan diawal mulanya. Keadaan drainase & saluran air di Jakarta mampu dibilang telah amat sangat kacau. Upaya masif Pemerintah Kota DKI Jakarta diperkirakan pula tak mau bisa mencegah banjir gede, pasalnya limpahan air hujan dari Bogor terkadang mampu meluap hingga tidak terkira derasnya.

Hasilnya, fakta pula berkata, meski sekian banyak kala dulu Pemerintah DKI Jakarta telah mulai sejak lakukan normalisasi Sungai Ciliwung di lebih kurang kawasan Kampung Pulo, tapi konsisten saja wilayah disekitar Ciliwung & Jatinegara ini masih terendam banjir.

Dilaporkan dari page Act.id, air bah kiriman hujan deras yg berlangsung di Bogor kepada Senin (16/11) tempo hari sudah meluapkan Air Sungai Ciliwung. Imbasnya kawasan di hilir Sungai Ciliwung kira kira Bidaracina, Cililitan, & Bukit Duri pula terendam. Ke-3 wilayah ini lokasinya memang lah berada serasi di tepi aliran sungai Ciliwung.

Mengantisipasi barangkali banjir kawasan Bidaracina semakin memburuk, tim rescue dari Perbuatan Serentak Tanggap serta mengemukakan siaga 1 utk melaksanakan tindakan evakuasi penduduk kalau memang lah dipakai. Sementara ini sampai tulisan ini diturunkan, dua group rescue yg telah berpengalaman panjang dalam urusan banjir Jakarta telah siap siaga di ruang rawan banjir Bidaracina bersama dua perahu karet.

Komandan Tim Rescue ACT Anang Herdiana menyampaikan pihaknya sudah dapat mengidentifikasi titik-titik rawan banjir di Jakarta, maka kesiapsiagaan utk antisipasi resiko negatif periode hujan thn ini mampu lebih diminimalisir.

Meski benar-benar banjir di Bidaracina terhadap Senin tengah malam dulu belum terlampaui parah, tetapi evakuasi penduduk terus mesti dilakukan, pasalnya air naik nyaris setengah m ke perumahan masyarakat di Bidaracina. Masyarakat yg tidak mempunyai rumah berlantai dua mesti dievakuasi ke tempat yg lebih tinggi.

Menyikapi mungkin saja banjir Jakarta yg makin jelang puncaknya, Warga Relawan Indonesia (MRI) Jakarta Raya sudah siap siaga hadapi dampak bencana di masa penghujan. Tidak Cuma menciptakan Posko Siaga Bencana di sebanyak titik di Jakarta, MRI menetapkan seperti di tahun-tahun pada awal mulanya bahwa kantor Perbuatan Serentak Tanggap di Ciputat jadi Posko Induk Siaga Bencana.

Muhammad Affan, Ketua MRI Jakarta Raya mengungkapkan dikala ini timnya dengan ACT dalam fase awal kesiapsiagaan bencana banjir. “Sekarang seluruh koordinator daerah MRI yg ada di Jakarta & sekitarnya, sedang lakukan pendataan awal terkait titik banjir, yg setelah itu bakal menetapkan posko arena lapang pas bersama daerah yg terdampak bencana banjir. Sedangkan posko Induk utk Pos Komando Jakarta Raya dapat dilokasikan di Kantor ACT Ciputat,” jelas Affan, Rabu (18/11).

Affan menyampaikan 10 relawan sudah ditunjuk juga sebagai koordinator Tim Siaga Bencana, yg bakal mengkoordinir kurang lebih 300 relawan MRI. (cal) 
Sumber

Cara Pemerintah Antisipasi Banjir dan Longsor Indonesia

bencana-banjir-indonesia
Masa datang silih berganti. Usai melepaskan derita masa kemarau panjang yg menyesakkan tidak dengan air tatkala berbulan-bulan, sekarang ini nyaris semua wilayah di Indonesia telah mulai sejak memasuki awalan dari masa hujan. Prediksi Tubuh Meterologi, Klimatologi, & Geofisika menyatakan mungkin hujan deras bakal mengguyur teratur merata di seluruhnya Indonesia sejak mulai akhir Nopember sampai puncaknya di kira kira Januari-Februari th depan.

Berbicara menyangkut hujan deras, negara ini punyai catatan panjang menyangkut bencana tanah longsor & banjir yg menghantam tidak sedikit wilayah. Seakan telah menjadi pelengkap kala periode hujan, banjir & longsor ingin tidak ingin, senang tidak gemar, tentu miliki potensi agung nyaris di semua propinsi di Indonesia.

Pertanyaannya setelah itu, telah siapkan Kita menghadapi mungkin saja banjir & longsor di periode hujan th 2015-2016 ini?

Adakah antisipasi pemerintah buat mengurangi risiko banjir & longsor?

Dikutip dari pemberitaan Antaranews, pemerintah nyata-nyatanya telah menyiapkan tidak sedikit upaya buat mengantisipasi bencana banjir & longsor yg potensial di ruangan rawan bencana Indonesia. Menurut paparan Kepala Pusat Data Berita & Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Selasa (17/11) Tindakan Nasional utk mencegah risiko bencana banjir & tanah longsor telah disiapkan oleh pemerintah buat th 2015 hingga 2016 akan datang.

Sebelum periode hujan datang makin teratur & makin deras, Kementerian Koordinator sektor Pembangunan Manusia & Kebudayaan (Kemenko PK) pula telah berinisiatif membicarakan risiko bencana banjir & longsor ini melalui koordinasi tingkat kementerian, Instansi, & kepala daerah.

Apa saja trick pemerintah Indonesia utk mengurangi efek bencana banjir & longsor?

Salah satu yg sedang diupayakan yaitu sosialisasi risiko banjir & longsor di tingkat pusat & daerah-daerah yg potensial bakal banjir & longsor.

Wilayah rawan banjir di antaranya jabar, Jakarta, Semarang, Kudus, Demak, Manado, & beraneka kota yang lain dapat jadi prioritas pengurangan risiko banjir berdasarkan catatan kebencanaan tahun-tahun pada awal mulanya.

Sutopo pula menyambung dapat menyiapkan & menginventarisasi sumberdaya yg dipunyai oleh masing-masing Instansi & memenuhi kekurangan logistik & peralatan.

Terhadap intinya, bencana banjir & tanah longsor ialah type bencana alam yg “slow on set” artinya ke-2 tipe bencana ini berlangsung dgn lambat & perlahan. Prediksi & tanda-tandanya bakal dgn enteng ditemukan & dipahami tidak dengan butuh kajian ilmu wawasan & alat-alat modis.

Sehingga dari itu, kesiapsiagaan bencana banjir utama buat jadi prioritas, jikalau sebab banjir saja negara ini telah kalang kabut, macam mana seandainya satu buah kala kelak timbul kembali bencana gede macam tsunami 2004 silam? Bukan jadi bahan ancaman, namun jadi refleksi nyata bagi kesiapan penanggulangan risiko bencana di negara ini.

Melansir dari catatan Antaranews, Berdasarkan peta bencana di Indonesia terdapat 315 kabupaten/kota yg berada di daerah bahaya sedang-tinggi dari banjir dgn jumlah masyarakat 61 juta jiwa di daerah tersebut. Sedangkan buat bencana longsor ada 274 kabupaten/kota yg berada di daerah bahaya sedang-tinggi dari longsor bersama jumlah warga 40,9 juta jiwa di daerah tersebut. (cal)

img : Tempo.co 
Sumber

Selasa, 17 November 2015

Kesiapan Sistem Peringatan Dini Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Indonesia

peringatan-dini-bencana-banjir
Periode kemarau panjang th 2015 telah terlewat, waktu ini nyaris semua wilayah Indonesia telah berada di ujung pintu fenomena hujan deras & bahkan badai dari pagi sampai sore hri. Saat berkata mengenai potensi hujan deras & badai, bayangan yg segera terbersit di kepala ialah ancaman bencana banjir & tanah longsor. Terhadap kenyataannya, negara ini benar-benar masihlah prematur buat mengantisipasi bencana yg datang silih berganti. Usai melintasi kekeringan parah sebab kemarau panjang, sekarang menghadang potensi banjir & tanah longsor. Dataran tinggi terancam longsor, dataran rendah terancam limpahan banjir. Kumplit telah derita yg kelihatan di depan mata.

Lantas dengan cara apa sesungguhnya kesiapan system peringatan dini bencana banjir & tanah longsor di Indonesia? Ringkasan terkini dirilis oleh Kepala Tubuh Nasional Penanggulangan Bencana (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) Willem Rampangilei menegaskan bahwa setuju atau tak, kenyataannya benar-benar system peringatan dini banjir & longsor di Indoenesia tetap amat minim & mengkhawatirkan.

Kenapa sanggup begitu?

Dilansir dari laporan CNN Indonesia, status timpangnya kesipaan system peringatan dini banjir & tanah longsor di Indonesia bukanlah omong kosong tidak dengan bukti data. Pasalnya, menurut catatan & identifikasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana dengan cara menyeluruh di semua Indonesia, jumlah Kab yg rawan banjir & tanah longsor di Indonesia hri ini berjumlah jumlahnya 279 Kabupaten/Kota. Sedangkan instalasi system peringatan dini pada banjir & longsor di periode hujan thn 2015 ini baru ada banyaknya 42 kabupaten/kota. Jumlah yg teramat minim, bahkan tidak lebih dari 20%.

Apa yg jadi argumen system peringatan dini banjir & longsor belum betul-betul disiapkan merata di semua Indonesia? Tidak Sedikit gangguan yg menghadang. Menurut paparan Willem, satu faktor yg jadi kesusahan penting yakni dikarenakan masing-masing daerah Kabupaten/Kota di Indonesia miliki karakteristik wilayah yg berbeda-beda. Tidak sanggup disamakan potensi banjir & longsornya bersama daerah lain.

Contohnya ada daerah di Indonesia yg miliki potensi bencana longsor yg lebih tidak sedikit ketimbang bencana banjir, begitupun sebaliknya. Miliki potensi banjir yg lebih tidak sedikit ketimbang longsor. Bahkan Ada juga daerah yg potensi longsornya tiba-tiba meningkat drastis sesudah melintasi periode kemarau panjang ini lantaran menciptakan tanah kering & gampang longsor demikian terkena air hujan dalam intensitas yg akbar. Sehingga dari itu, butuh analisis panjang yg dilakukan utk lakukan identifikasi kerentanan bahaya bencana. Pendistribusian dana & sumber daya buat pencegahan bencana longsor & banjir tidak mampu disamaratakan.

Berdasarkan data yg dikutip semua dari laporan CNN Indonesia, sampai Agustus 2015 terdapat 375 kejadian banjir dgn sebanyak kerugian, di antaranya : 25 jiwa wafat, 606.655 jiwa mengungsi, 437 satuan rumah rusak berat, 15 satuan media kesehatan rusak, 51 satuan alat ibadah rusak, & 166 satuan alat pendidikan rusak.(cal)

img : viva 
Sumber

Wilayah Jakarta yang Terendam Banjir di Bulan November 2015

wilayah-rawan-banjir-jakarta 

Awan mendung pekat & agung mulai sejak jadi etika yg menutupi langit Ibukota Jakarta dalam sekian banyak hri terakhir. Sejak memasuki minggu ke-2 bln Nopember 2015 ini, Kota Jakarta & kota-kota supporter di sekitarnya, yaitu Bogor, Depok, Tangerang, & Bekasi serta sejak mulai teratur diguyur hujan deras tiap harinya.

Kalau Jakarta & kota komuter di sekitarnya diguyur hujan deras, satu ancaman yg paling menempel di benak penduduk Jakarta ialah ancaman bencana banjir. Jakarta & banjir merupakan seperti dua faktor yg tidak dapat dipisahkan. Buruknya drainase & hancurnya keadaan aliran sungai yg mengalir membelah Kota Jakarta yaitu penyebab bencana banjir Jakarta tetap mengintimidasi tiap tahunnya waktu masa hujan sejak mulai mengguyur.

Pekan sore (15/11) tempo hari, hujan sangar deras yg membasahi wilayah Bogor & Puncak menyebabkan aliran air limpahan dari hulu sungai Ciliwung mengalir amat sangat deras. Keadaan Siaga 1 banjir juga ditetapkan oleh pihak terkait yg mengontrol tinggi air di bendungan Katulampa.

Waktu air deras mengalir ke arah hilir di Teluk Jakarta, area bantaran sungai Ciliwung bakal berpotensi meluap & menyebabkan banjir di sebanyak titik.

Ruang mana saja di wilayah Jakarta yg terendam banjir tatkala Bln Nopember 2015 ini?

Dikutip dari CNN Indonesia, Tubuh Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta launcing data terakhir wilayah Jakarta yg telah terendam banjir, adalah Kelurahan Pejaten Timur, Kelurahan Rawajati, & area depan Pasar Induk Keramat Jati, Jakarta Timur tergenang banjir bersama ketinggian 50-60 sentimeter.

diluar itu, banjir Jakarta serta sejak mulai merendam wilayah depan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. wilayah depan pasar Kramat Jati berada persis disebelah aliran sungai Ciliwung. BPBD DKI serta melaporkan banjir menggenangi persimpangan Hex di Jalan Raya Bogor, sebab jebolnya pintu air di tempat tersebut.

Banjir yg telah menggenangi wilayah Jakarta di awal bln Nopember 2015 ini seperti prediksi awal bahwa wilayah sepanjang bantaran Sungai Ciliwung bakal jadi area penting direndam banjir. Terpaan banjir berada tepan di sepanjang aliran sungai Ciliwung yg berhilir di Teluk Jakarta.

Jikalau hujan sejak mulai menderas lagi di sore hri, sehingga Tinggi Muka Air di sebanyak bendungan di Jakarta segera dapat meningkat kembali. Catatan terakhir yg dirilis dari web BPBD DKI Jakarta menyebut tinggi air di Pintu Air Depok 85 centimeter atau Siaga IV, tinggi air Pintu Air Manggarai 690 senti meter atau Siaga IV, tinggi air Pintu Air Karet 360 centimeter atau Siaga IV, & tinggi air Pintu Air Pesanggaran 130 senti meter atau Siaga IV. (cal)

img : liputan6.com 
Sumber

Rabu, 11 November 2015

Neduh Sembarangan, Denda Rp. 250 Ribu Siap Menanti

Pemotor Meneduh sembarangan 

Minggu ke-2 Nopember 2015 ini perubahan masa sudah menunjukkan gejalanya. Hari-hari yg rata rata kering & panas terik waktu ini perlahan sejak mulai beralih jadi hari-hari yg mendung. Hujan telah datang, periode panas & kemarau panjang yg mengambil penderitaan sudah berganti. Termasuk Juga di Ibukota Jakarta. Hari-hari terakhir, hujan sejak mulai teratur membasahi Jakarta. Intensitasnya juga tergolong deras. Hasilnya keadaan ini serta memaksa para pengendara roda dua yg biasa bersliweran di jalanan Jakarta dgn panas terik & gersang mesti menyiapkan jas hujan sbg perangkat pelengkap, apabila tidak mau basah kuyup kehujanan dalam perjalanan dari & menuju ke kantor.

Dengan Cara Apa seandainya tidak miliki jas hujan atau luput mengambil jas hujan dari rumah? Rata-rata pengendara motor pasti tidak mau pakaian & barang bawaanya basah diguyur hujan kalau nekat menerobos di tengah hujan deras. Telah jadi rutinitas teratur, bahwa waktu hujan deras, tidak sedikit pengendara motor memarkirkan kendaraan, utk sekadar meneduh sejenak di tempat umum yg beratap, seperti halte bus, terowongan, bahkan Jembatan Penyebrangan Orang. Terkadang malah tindakan neduhnya para pengendara motor saat hujan turun di Jakarta ini menyebabkan kemacetan panjang. Apalagi disaat jam-jam sibuk pasca pulang kerja.

Tetapi waktu ini, pengendara motor kayaknya butuh waspada & berpikir ulang buat ke-2 kalinya kalau mau neduh sembarangan dipinggir jalan. Pasalnya Sub Direktorat Gakkum Ditlantas Polda Mero dapat menerjunkan tim husus di sekian banyak titik sentral di Jakarta utk mencegah & mengusir para pengendara motor yg neduh kala hujan turun di sembarang lokasi. Menjadi tiada lagi pembiaran para pengendara motor yg meneduh di bawah terowongan, flyover, atau Jembatan Penyebrangan Orang maka sebabkan kamacetan.

Aturan ini ditegaskan oleh Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto, seperti yg diberitakan oleh page Detikcom.

Berdasarkan aturan baru ini, Budiyanto memberikan peringatan bahwa pihaknya bakal laksanakan aksi tegas bagi para pengendara motor yg tetap ngeyel buat memarkirkan kendaraannya & neduh sembarangan dibawah flyover, atau JPO maka sebabkan terhenti panjang saat hujan turun.

Seandainya pemotor malas buat dibertahu, sehingga Pegawai bakal serta-merta menilang pengendara motor. Bahkan kabarnya, kalau pemotor tidak mematuhi Pegawai & masih neduh sembarangan sehingga dapat ada denda Rupiah 250 ribu bagi tiap pelanggaran.

Tapi, meski begitu, ada satu pengecualian bila dalam keadaan hujan deras, pemakai motor di Ibukota Jakarta meneduh sejenak di bawah Jembatan Penyebrangan Orang, flyover atau terowongan buat sekadar menggunakan jas hujan seterusnya menyambung perjalanan kembali. (cal)

img : liputan6.com 
Sumber